Wednesday, February 16, 2011

Keluhan Tembakau

Mungkin ada benernya juga pelesetan hari kasih sayang jadi FU*KLentine.
Tahun ini bener2 deh hari kasih sayang banget buat saya dan dia.
Dikantung jaketnya ada rokok. Dia bilang dia merok akhir2 ini.
Saya marah. Sedih lebih tepatnya. Sedih kenapa kebiasaan buruk yang ingin ditinggalkan oleh orang2 pecandu malah sedang dimulai oleh pria saya sendiri.
Saya marah. Sedih tepatnya. Lalu saya minta dia menyerahkan sebungkus rokok hitam (bukan berwarna hitam tapi hanya hitam) yang ada di saku jaket tebalnya yang usang. Saya ambil dua batang dan saya nyalakan. Tidak peduli dengan gerimis yang memulai. Tidak peduli dengan pandangan sinis orang. Tidak peduli dengan dia yang menatap heran. Saya pun merokok. Saya pikir yah gerakannya pasti hanya seperti menghirup sirup memakai sedotan. Ternyata tidak sama. Ketika saya merokok. Pria saya marah, dia berusaha merebut rokok hitam yang saya nyalakan dari tangan saya. Tentu saja saya tidak mau. Saking ingin cepatnya rokok itu habis saya hirup sekuat tenaga dan timbul ledakan kecil. Kaget juga. Tapi yaudahlah. Udah abis tuh dua batang~

Dulu ketika pria saya di ibukota untuk keperluan kampusnya, ketika kita harus terpisah perbatasan kota dan tiga jam perjalanan, ketika saya tidak bisa melihat wajahnya setiap akhir minggu, ketika saya sangat rindu, dan ya ketika dia mulai mencoba lintingan tembakau itu. Dia pernah mengutarakan sebuah janji pada saya. Yang membuat saya sedikit tenang, ketika itu. Ya saya tenang, karna pria saya tidak pernah mengingkari janji yang benar2 dibuatnya sendiri.

Tapi sekarang, dia mengingkarinya. Saya sedih. Sebenarnya tidak perlu maaf. Tidak ada guna jika tidak membuatnya berhenti. Saya sedih. Pria saya berkata bahwa ia ingin merokok. Ya saya sedih. Teringat wajahnya yang cekung, teringat dadanya yang rengkung, teringat badannya yang jangkung dan bengkung. Saya sedih ketika teringat si lintingan tembakau itu lama-lama akan membuat pria saya terlihat semakin katung. Saya sedih.

Jujur saya sangat tidak suka sekali dengan rokok. Tidak baunya. Tidak asapnya. Tidak juga rasanya. Pahit seperti sayur lodeh hambar yang terus menempel dipangkal lidah. Memang kadang seseorang terlihat keren ketika merokok. Tapi hanya kadang. Ya kadang. Dan hanya berlaku untuk orang-orang tertentu saja, model misalnya. Dan saya sama sekali tidak pernah berharap si pria saya menjadi perokok. Saya senang dia tidak merokok. Saya Bangga. Entahlah, mungkin terdengar lebay dan so' gimanaa gitu. Tapi memang demikian, dulu saya bangga pria saya tidak merokok. Ya, dulu.

Sekarang saya tak mau mencoba melarangnya lagi. Sudah saya ingatkan. Sudah saya tegur dengan keras. Sudah. Sekarang terserah dia. itu hidupnya. saya hanya bagian kecil. Sangat kecil. Ocehan saya mungkin hanya seperti asap yang keluar dari ujung lintingan tembakau yang terbakar. Muncul lalu hilang bersama angin.

Tapi saya tetap mencintainya. Menyayanginya sama seperti sebelum dia berteman dengan lintingan tembakau.
Juga tetap menyukai dan menggilainya.
Tetapi hanya jika tanpa lintingan dan bau tembakau yang terbakar. Karna saya masih sangat menyukai, menggilai dan menginginkan pria saya yang dulu hanya berbau debu jalanan dan keringat perjuangan.

No comments: