Thursday, June 19, 2014
Perjalanan kemarin (Dream land, Japan); Side story.
I remember when I met an old couple back then in Ginza Sta. When I was carrying my super heavy lugage upstair, suddenly my lugage became more lighter, when I looked back, an Ojii-san helped me out while smiling. Then his wife, behind him said “よかったね" smiling also. After the Ojii-san helped me he just walked away left me in stunned. Almost forget to say “ありがとうございました!” I said out loud. They turned back again and smiled.
What a nice couple, I said in my heart. And until now, I never forget the way they looked. An Ojii-san in neat office suit with clean black shoes and his wife in nice broken white dress with flower on her right shoulder carrying a small hand bag.
The wife walked behind him and The husband walked infront leading the way. Reminds me of the bear, when we walked around Tokyo as I said on the older post. He walked so fast, Yappari since he is a Japanese man, they are fast. He lead the way, I followed him with no doubt. In the train, He stood beside me, no, it's more like outside my standing zone making a man fence, separate me from the crowd. And in the public bus, he let me sit in the inside part, then he sit next to me, again blocking me from other people. Every little things that he did, all of them feels like protection. Now you know why I feel safe.
Nona Wimberlton
Sebuah rumah
mewah di sebuah perumahan Real Estate
pagi itu terlihat se sunyi biasanya. Tepat pukul 06:30, sebuah mobil sedan hitam
keluar dari gerbang rumah mewah itu. Sedan itu melaju dengan kecepatan sedang
di atas jalan raya kota Bandung dan sama sekali tidak menampakkan akan
mempercepat laju nya, hanya bergerak dengan kecepatan sedang yang tetap. Di
dalam sedan itu sesosok perempuan mungil tampak mengemudikan mobilnya dengan
tenang dan sama sekali tidak tampak tergesa-gesa.
Rashha, perempuan
mungil pengendara sedan hitam itu kini terlihat berlari kecil mengelilingi
lapangan sekolahnya yang begitu luas. Lagi-lagi dia dihukum guru piket karena
terlambat 15 menit setelah bel masuk pada pukul 06:30.
“Ini peringatan
terakhir saya ya, Rashha Verlita Wimberlton. Saya sudah bosan menghukum kamu
lari setiap pagi. Mulai besok, kalau kamu terlambat lagi, Saya akan memberikan
hukuman yang lebih berat dari ini. Kamu mengerti?”.
Ocehan guru
piket itu kembali terdengar. Ya, sebenarnya kata-kata itulah yang selalu keluar
dari mulutnya setiap pagi, selalu begitu kata-katanya. Kenyataannya, hukuman
lari lah yang selalu ditimpakan pada Rashha. Rashha sendiri sudah hafal betul
kata-kata itu, sehingga ia mengangguk sebelum guru piket itu menyelesaikan
ancaman nya dan lalu berlalu meninggalkan sang guru yang geleng-geleng antara
jengkel dan tak tahu lagi harus berbuat apa.
Rashha memang dikenal
dengan sikapnya yang cuek dan jarang sekali berbicara, apalagi untuk hal yang
menurutnya tidak begitu penting, sehingga mengesankan kalau dia adalah anak
yang dingin dan penyendiri. Di sekolah Rashha sama sekali tidak memiliki teman
dekat, padahal anak-anak perempuan sebayanya, pada usia ini memiliki beberapa
teman dekat wanita atau malah sekumpulan. Tapi Rashha tidak, orang yang
berbicara padanya paling hanya sang guru piket, penjaga perpustakaan, guru dan
teman se-bangku-nya, Diana. Itu pun jarang sekali, karena Diana adalah anak yang
lemah dan sering sakit-sakitan sehingga ia jarang masuk sekolah.
Tapi dibalik sikap
cuek nya, Rashha adalah seorang anak yang cerdas dan baik hati, tanpa diminta ia
akan langsung membantu temannya yang sedang kesulitan, walaupun tetap tanpa
berbicara apa-apa, sehingga mengakibatkan orang yang ditolong bingung dan tak
tau harus bagaimana.
Pagi itu pada
pelajaran pertama, Miss. Sara guru bahasa inggris, masuk dengan membawa serta
seorang gadis cantik berambut lurus hitam berkilau yang tergerai hampir sampai
ke pinggul nya. Ciri-ciri fisiknya mengatakan kalau dia jelas bukanlah orang
Indonesia. Ternyata benar, Hinata seorang gadis keturunan Jepang yang hari itu datang
untuk menjadi murid baru di kelas itu. Tanpa berkata apapun Rashha yang saat
itu sedang menulis sesuatu di catatan kecilnya menengadahkan wajahnya yang
mungil untuk sekedar melihat siapa gerangan yang akan menjadi anggota baru
kelas ini. Dia harus menengadah karena badannya yang mungil itu duduk di bangku
pojok paling belakang di kelas. Setelah sekilas melihat siapa yang datang dia
kembali menunduk dan melanjutkan catatan nya.
Setelah
dipersilakan duduk, Hinata langsung melirik bangku di sebelah Rashha yang
kosong, Diana sudah hampir satu minggu absen dari sekolah. Ketika Hinata hendak
duduk di bangku itu Rashha berkata sembari tetap memfokuskan pandangannya pada
catatan kecilnya,
“Bangku itu
sudah ada penghuninya, hanya saja hari ini dia tidak masuk”.
Begitu
penjelasan Rashha pada Hinata, sebenarnya penjelasannya itu berbaur dengan
penolakan yang ia per halus. Entah mengapa Rashha merasa enggan jika harus
se dekat itu dengan Hinata, kalau nanti anak Jepang ini menjadi teman
se bangku nya. Melihat Hinata yang berdiri diam disamping bangku Diana yang
kosong, Miss. Sara bertanya,
“What is wrong Hinata?”
“Emm… nothing Miss, I just want to sit on
this seat, but this girl said that it was occupied”
Hinata menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada Rashha yang masih tetap menunduk.
“Oh…I think you can sit there, because this
morning I’ve got a letter from Diana’s mother and she said that her daughter
will not come for school for about a month later. Diana has taken to New York
to be take care of due to her illness. So I think that will be okay if you sit
there, right Rashha?”
“Hmmm…., well yes of course”.
Rashha
meng-iya-kan tanpa mengalihakan pandangannya, tetap menunduk. Kini memikirkan
bagaimana keadaan Diana, apakah penyakitnya semakin parah sehingga ia harus
dibawa ke luar negeri.
“Thank you, I hope we could be a nice
tablemate”
Hinata berkata sembari
duduk dan kemudian mengeluarkan buku pelajarannya. Jam pelajaran Bahasa Inggris
pagi itu cukup mendatangkan keributan yang dibuat anak laki-laki di kelas itu
yang tidak henti-hentinya bertanya pada Hinata di saat bagian pertanyaan bebas,
yang tentu saja harus menggunakan bahasa inggris.
Dan
pertanyaan-pertanyaan itu pun terus berlanjut sampai bel istirahat pertama
berbunyi nyaring. Ketika anak-anak lain mulai berhamburan dan berlomba menuju
kantin, Rashha yang biasa membawa bekal makanan dari rumah, pagi itu pun tidak
beranjak dari bangku nya dan sudah akan mulai memakan bekalnya ketika tiba-tiba
Hinata bertanya,
“Hai, aku Hinata
Vincentia Takeda, siapa namamu?”
Sedikit terkejut
karena pertanyaan yang mendadak saat ia hendak memakan bekalnya, Rashha pun
menjawab singkat
“Rashha, Rashha
Verlita Wimberlton”.
Ia pun
melanjutkan suapan nya yang tadi tertunda.
“Hemm… ok,
Rashha… sweet name”.
Hubungan Rashha dan Hinata tidak
berangsur semakin dekat, karena sikap Rashha yang seakan menolak untuk terlalu
dekat dengan Hinata. Mereka pun hanya berbicara ketika Hinata mengajukan
pertanyaan pada Rashha. Selebihnya, mereka tidak pernah berbicara lebih banyak.
Tapi entah
mengapa Rashha merasa kalau Hinata selalu memperhatikannya, baik itu ketika jam
pelajaran, atau pun ketika ia beranjak dari bangku nya untuk sekedar ke toilet
atau ke perpustakaan. Ya, sepertinya Hinta selalu mengawasi gerak-geriknya. Ada
apa sebenarnya dengan anak Jepang ini, kadang Rashha bertanya seperti itu pada
dirinya sendiri. Aneh.
Setiap hari
kelas itu selalu dipenuhi dengan kegiatan yang hampir sama, belajar, mengajar
dan aktivitas yang lainnya. Rashha pun yang memang sudah terbiasa dengan
keadaan itu tidak banyak berkomentar, dia selalu diam di sudutnya dan
mengerjakan aktivitasnya sendiri. Sampai suatu hari ia menemukan sesuatu yang
membuatnya penasaran di loker teman sebangkunya yang baru itu. Sebuah kalung
berbentuk topeng prajurit romawi yang berdisainkan tanda seperti silang
vertikal tergeletak setengah tersembunyi di balik tumpukan buku di loker
Hinata.
“Apa itu?”
Tanyanya dalam
hati. Dengan masih mempertimbangkan kesopanan, Rashha tidak lalu mengambil
kalung itu dan melihatnya, ia hanya memperhatikannya sebentar, berfikir dan
kembali pada aktivitasnya yang tadi.
Sesampainya di
rumah, Rashha merebahkan tubuh mungil nya di atas kasur-nya yang besar. Tiba-tiba
ia teringat kalung Hinata tadi,
“Tunggu,
sepertinya kalung itu pernah kulihat… dimana ya?”
Sambil terus berusaha
mengingat, ia menyalakan laptop nya, untuk mengecek e-mail yang masuk. Ternyata ada sebuah e-mail baru yang masuk ke dalam inbox-nya.
Subjek nya
mengatakan kalau itu adalah surat penting yang berasal dari ayahnya yang berada
di London. Ah iya sebelumnya, Rashha adalah putri tunggal dari seorang raja di salah satu kerajaan
di Inggris. Setelah membaca e-mail itu sekilas, Rashha berfikir dan
sekarang ingat dimana ia pernah melihat kalung itu. Ya! Kalung itu mirip dengan
kalung yang dipakai mayat seorang wanita cantik keturunan Eropa yang ia lihat
beberapa tahun lalu di kastil ayahnya di Inggris. Mayat wanita yang hingga kini
ia tak tahu siapa. Wanita itu mendapat hukuman mati karena telah berkhianat
pada kerajaan ayahnya dan terbukti merupakan salah seorang anggota yakuza
penyebab tewasnya ibu Rashha dalam sebuah kecelakaan pesawat. Tapi kenapa
kalung itu ada pada Hinata???
Keesokan
harinya, di kelas. Hinata yang sedang mengobrol di bangku depan menatap Rashha
dengan tatapan yang aneh, tatapan orang yang seakan memiliki dendam yang sangat
besar. Menyadari tatapan ganjil Hinata, Rashha lalu menoleh kearah sumber
tatapan itu. Hinata yang melihat tatapan balasan Rashha, tersenyum dingin lalu
melanjutkan obrolan nya.
Malam itu ayah
Rashha menelepon, dengan nada khawatir ia menanyakan kabar putri tunggalnya itu.
Ia meminta putrinya untuk pindah menyusul-nya ke London, karena ayahnya menganggap
keadaan sudah semakin berbahaya dengan adanya surat ancaman yang datang ke
kerajaannya di London. Surat itu mengatakan bahwa ia akan kehilangan satu lagi
orang yang ia cintai di dunia ini dalam waktu dekat.
Rashha pun
akhirnya menurut setelah berkali-kali ayahnya membujuk untuk segera menyusul-nya ke
London, sore itu juga. Di sana ia mendapat pengawasan ketat, kemana pun ia pergi
selalu harus ada pengawal yang mendampinginya. Ayah Rashha sendiri hari itu
juga berpamitan pergi ke New York untuk menyelesaikan urusannya yang tertunda
akibat adanya surat ancaman itu. Ia berpendapat, di kastil keamanan Rashha bisa
lebih terjamin dengan adanya pengawal yang selalu berjaga.
Malam itu, London yang putih
karena tertutup salju di bulan Desember terlihat begitu mencekam, walaupun suhu
dingin yang menyebabkan membekunya sebagian besar perairan di London tidak
dapat menembus dinding kastil kerajaan Wimberlton, tetap saja Rashha tak bisa
terlelap. Pikirannya tentang kalung itu akhir-akhir ini selalu menghantuinya,
kenapa kalung itu ada pada Hinata. Tiba-tiba ia bangkit dari tidurnya dan
pikirannya seakan terulang kembali ke hari dimana ia melihat mayat wanita Eropa
itu. Ya! Tidak salah lagi, wanita itu bernama Vincentia Sharon, seorang wanita
anggota yakuza yang meyebabkan ibunya tewas dalam kecelakaan pesawat 10 tahun
lalu. Dan kalau tidak salah, Vincentia adalah nama tengah Hinata.
Jangan-jangan…
Tiba-tiba
terdengar suara sirene dari arah luar, disusul dengan teriakan para pengawal
kerajaan, beberapa suara ledakan senjata api pun terdengar begitu memekakkan
telinga. Rashha kini benar-benar bangkit dari tempat tidurnya, ia mengintip
keluar dari jendela kamarnya. Keadaan di bawah sangat tidak karuan, para
pengawal berlarian dan saling berteriak penyusup. Sepertinya sekelompok yakuza
telah berhasil menembus pengawalan kerajaan.
“JEBLAKK!!”
Pintu kamar
Rashha tiba-tiba terbuka, beberapa pengawal datang untuk membantunya untuk bersembunyi.
Dengan masih setengah terdiam, Rashha membiarkan mereka membawanya ke sebuah
bungker yang berada di bawah kastil. Pengawal nya menyuruh Rashha untuk tetap
diam di situ sampai keadaan aman. Hening, bungker itu terasa begitu hening, hanya
terdengar beberapa suara tembakan dari kejauhan. Tiba-tiba bungker itu entah
bagaimana bisa di terobos oleh salah satu yakuza, sepertinya dia tahu kalau
Rashha disembunyikan di bungker itu. Tapi ketika ia masuk, tak ada siapa-siapa
di dalam bungker. Rashha telah pergi sebelum yakuza itu datang.
Sekarang Rashha
ada di ujung sayap kiri kastil. Di ujung sayap kiri kastil ini ada jurang yang
sangat dalam. Rashha terdiam di sisi pagar yang membatasi jurang itu, ia tak
tahu harus berbuat apa. Rashha hanya diam dan mendengarkan sekitarnya.
“Srek, srek,
srek…”
Tiba-tiba rasha
mendengar seseorang berjalan di belakangnya, suara langkah kaki menginjak salju
itu terasa semakin mendekat. Lalu suara seorang perempuan terdengar dari balik
punggungnya.
“Sekarang kau
tak bis lari Nona Wimberlton, Aku datang untuk membalaskan dendam ibuku 10
tahun lalu”
Rashha berbalik,
dia melihat sosok yang sudah dikenalnya, Hinata berdiri di depannya dengan
pistol teracung ke arah nya. Malam itu Hinata terlihat begitu menyatu dengan
Yakuza, berpakaian serba hitam dan memakai masker. Walaupun begitu, Rashha tahu
kalau wanita itu adalah Hinata, Rashha bisa merasakannya. Ketika Hinata menarik
pelatuk senjata nya, Rashha dengan sigap menendang tangan Hinata yang
menggenggam pistol. Pistol itu pun ter lontar jauh dan kini mereka berhadapan
satu lawan satu tanpa senjata. Perkelahian pun berlangsung seri antara mereka
berdua. Rashha yang memang penyandang sabuk hitam di perkumpulan karatenya
melawan Hinta yang juga menyandang sabuk hitam yang ia dapatkan ketika ia masih
berusia 12 tahun.
Akhirnya Rashha bisa
menyudutkan Hinata yang sekarang tidak bisa bergerak karena ia berada di ujung
jurang, pijak kan kakinya mulai tidak stabil dan saat kehilangan kendali
tubuhnya Hinata pun terjatuh.
“Greb!!”
Rashha
mencengkeram erat tangan Hinata yang sudah terjatuh dan kini tergantung di ujung
jurang itu.
“Lepas! Ku bilang
lepas!! Lepaskan tanganku sekarang juga! Sekarang aku telah kalah darimu,
ku akui kau memang hebat, Aku tak bisa membalaskan dendam ibuku. Sekarang Kau
bisa lepaskan Aku”.
Teriakan Hinata
terdengar menggaung ganjil di jurang itu. Tapi Rashha tidak mengendurkan
sedikitpun cengkeraman nya, dia tetap memegang tangan Hinata erat. Dengan semua
sisa kekuatannya ia mencoba menarik Hinata kembali ke atas sampai akhirnya
Hinata bisa ter selamatkan. Mereka berdua terduduk saling berhadapan tanpa
saling melihat.
“Kenapa? Kenapa
kau tidak membiarkan aku mati? Kenapa?? Padahal ibuku yang menyebabkan ibumu meninggal
dan aku juga mencoba membunuhmu. Tapi kenapa kau menolongku?”
Suara Hinata
yang terasa sedikit bergetar memecah keheningan diantara mereka berdua.
Ternyata benar, Hinata adalah anak dari wanita yakuza keturunan Eropa itu hanya
saja keadaan fisik Hinata lebih banyak dipengaruhi oleh gen ayahnya yang memang
adalah orang Jepang.
Rashha tidak
menjawab, dia tetap menunduk. Sampai akhirnya berdiri, berbalik sambil berkata,
“Aku tak tahu
apa alasan manusia untuk saling bunuh, tapi untuk saling tolong… kurasa tak ada
alasan yang logis, kan?”.
Hinata yang
terdiam mendengar kata-kata terakhir Rashha menengadah menatap langit yang
begitu bersih dihiasi bintang yang saling berkedip, ia menitikkan air mata
dengan tatapan yang kosong. Mungkin ia menyesal karena telah berbuat bodoh,
atau mungkin juga ia menyesal karena tidak bisa membalaskan dendam ibunya. Tapi
sepertinya kemungkinan terakhir itu tidak mungkin.
Sosok Rashha
yang mungil terlihat semakin menjauhi Hinata, semakin jauh dan lalu tak
terlihat lagi, ditelan oleh bayangan kastil kerajaan Wimberlton yang tetap
berdiri kokoh.
Bandung, 14 September 2006
Nur Asfari Dewi. XII IPA 1
Yep! pas tadi beres2 kamar, memisahkan barang2 yang kira2 masih bisa dipakai dan yang sudah tidak layak pakai, gw menemukan print-an cerpen yang gw tulis hampir 8 tahun lalu. UWOOOOW!! gw sendiri sih kaget gw pernah nulis beginian, gw rasa ini salah satu tugas Bahasa Indonesia di kala itu. Pas gw baca, " Lumayan juga gw!" gitu pikir gw... Hha. So, I'm sharing it to you. Maap ya kalo banyak yang gak masuk akal, Hha, namanya juga cerita fiksi yang dikarang anak SMA yang gila cerita2 detektif ;p
Hope you enjoy it. Happy reading :)
Subscribe to:
Posts (Atom)