Ada saat dimana rasanya sudah tidak tahan lagi.
Ingin berteriak. Ingin memaki. Ingin berhenti saja.
Disaat seperti itu ada dua pilihan. Bertahan atau pergi.
Di sini ada emas dan berlian. Tapi tidak ada mimpi dan imajinasi. Waktu adalah hal yang sangat mengikat, dan matahari adalah bintang di langit malam yang ber-polusi. Lalu kutanyakan pada sosok di cermin, "Kamu mau hidup yang seperti apa?". Dia tidak menjawab, tapi keningnya mengernyit.
Aku ini PEMIMPI. Aku pengkhayal yang handal.
Aku menciptakan, bukan menggali emas dan berlian.
Lalu mungkin kau akan bertanya,
"Kau ini berlagak kuat? atau apa?".
"Hanya terlalu banyak berpikir.... terlalu banyak berpikir dan tidak melakukan apa-apa."
Jiwaku menari, menyanyi, tertawa dan menangis disaat yang sama.
Aku lelah. Aku tak mampu lagi. Aku ingin matahariku yang dulu.
Matahari yang sebenarnya.
Aku ini apa? Kenapa diam disini dalam ragu dan putus asa?
Hanya memperhatikan orang-orang bertopeng yang sedang menggali.
Kemudian ketika aku tersadar dari pikiran-pikiranku,
aku adalah orang bertopeng itu.
Tarianku, nyanyianku, tawaku, tangisku, melemah.
Kehilangan gerakannya, kehilangan nadanya, kehilangan warnanya.
Kehilangan sihirnya.
Lalu sekarang aku ini apa?
Aku mau hidup yang seperti apa?
No comments:
Post a Comment