Tuesday, January 7, 2014

Nyanyian hujan


Mengetahui bahwa sebenarnya bisa bersama, ketika memilih untuk tidak rasanya seperti ditarik jiwa dari raga yg mencengkram kuat. 
Kenapa memilih seperti ini?
Saat jiwa yg menangis bukan air mata yg keluar. Tapi jeritan tak terdengar yang terasa sakit dan menekan.
Kamu. 
Kakiku melangkah ketika wajahku masih menoleh kebelakang. Masih menangis namun terus berjalan. Seketika berhenti. Jongkok. Meratap. Menjerit. Lalu kembali mencoba berjalan.
Untuk menyentuhku dengan ujung jarimu saja, bisa membawaku ke nostalgia masa lalu. Memori-memori diputar balik secara otomatis. 
Kau tumbuh. Tanpa mataku disekitarmu. Dan kau tetap tumbuh menjadi dirimu dan sejumput lingkunganmu.

Sekarang kau jadi sangat merindukan dan menyakitkan. 
Tapi saat ini...
ya, aku rindu. Sangat rindu. 
Kau dengar?



No comments: